Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Indonesia memiliki berbagai tradisi unik yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi saling mengantarkan makanan menggunakan rantang kepada sanak saudara, tetangga, maupun kerabat. Tradisi ini bukan sekadar berbagi hidangan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi di antara sesama.
Makna Tradisi Mengantar Makanan dengan Rantang
Tradisi ini banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan dan perkampungan yang masih menjunjung tinggi nilai gotong royong. Menggunakan rantang—wadah bertingkat berbahan logam atau plastik—makanan dikirim dalam keadaan hangat sebagai bentuk perhatian dan kepedulian kepada orang lain.
Biasanya, makanan yang dikirim berupa ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng hati, atau berbagai kue kering khas Lebaran. Pengirim berharap makanan yang diberikan bisa menambah kebahagiaan bagi penerima dalam menyambut hari kemenangan.
Menurut salah satu warga di Yogyakarta, Sri Wahyuni (52), tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. "Dulu, orang tua saya selalu mengantarkan makanan pakai rantang ke tetangga dan keluarga yang tinggal dekat. Saya pun meneruskan kebiasaan ini agar silaturahmi tetap terjaga," ujarnya.
Lebih dari Sekadar Berbagi Makanan
Mengantar makanan menjelang Lebaran tidak hanya sebagai simbol berbagi rezeki, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada sesama. Selain itu, ada nilai sosial yang terjalin dalam kebiasaan ini. Banyak orang yang menggunakan momen ini untuk saling memaafkan sebelum Idulfitri tiba.
"Saat mengantar rantang, kita bisa sekalian meminta maaf dan mengobrol sebentar. Ada kehangatan yang tidak tergantikan oleh sekadar pesan WhatsApp atau video call," kata Hendra, seorang warga dari Bandung.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Di era modern, kebiasaan ini mulai sedikit bergeser. Beberapa orang memilih mengirim makanan dalam kotak makanan sekali pakai atau menggunakan jasa kurir untuk mengantarkan hidangan. Meski begitu, semangat kebersamaan tetap ada.
"Kalau zaman dulu harus pakai rantang, sekarang banyak yang pakai kotak kue atau tas plastik. Tapi intinya tetap sama, yaitu berbagi dan menjaga hubungan baik dengan orang sekitar," ujar Rina, seorang ibu rumah tangga di Jakarta.
Tradisi mengantarkan makanan menjelang Lebaran dengan rantang memang sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Di tengah kemajuan zaman dan kesibukan masyarakat modern, mempertahankan budaya ini menjadi cara untuk menjaga kearifan lokal serta mempererat hubungan antarsesama.
Bagaimana dengan Anda? Apakah masih melakukan tradisi saling mengantar makanan pakai rantang saat menjelang Lebaran?