![]() |
Pengamat Politik Dian Rahadian |
BANDUNG, iNet99.id – Seorang pengamat politik Dian Rahadian mengutarakan pandangan kritis mengenai ketidakadilan yang dialami para petani di Indonesia. Menurutnya, perhatian pemerintah dan masyarakat masih terbatas pada harga gabah yang dihasilkan, sedangkan tenaga dan upaya yang dikeluarkan oleh petani sering kali diabaikan, Kamis, (1/11/2024).
Dian menjelaskan bahwa selama ini penentuan harga gabah hanya mempertimbangkan nilai produk akhir, yaitu gabah atau beras yang siap dijual di pasar.
Baca juga :
Hal ini menyebabkan harga gabah yang diterima petani sering kali tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan untuk menanam, merawat, hingga memanen padi.
"Para petani bekerja keras dari pagi hingga sore, terpapar cuaca ekstrem, dan bergantung pada musim yang tidak menentu. Namun, hanya harga gabah yang dihitung, tanpa mempertimbangkan usaha besar yang mereka lakukan," ungkap Dian.
Dian menyoroti pentingnya penghitungan tenaga petani sebagai bagian dari pengupahan yang adil. Menurutnya, pemerintah seharusnya memiliki sistem yang mampu menghitung besaran upah yang layak bagi para petani, berdasarkan tenaga kerja yang mereka keluarkan, bukan hanya hasil panennya.
"Seperti halnya pekerja di sektor formal yang memiliki standar pengupahan, petani juga membutuhkan sistem yang serupa," jelasnya.
Dian menekankan bahwa pendekatan yang berfokus hanya pada harga gabah cenderung mengabaikan aspek kesejahteraan petani.
"Petani bukan sekadar pemasok beras. Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional, dan sudah sepatutnya mendapatkan perhatian yang lebih adil," tegasnya.
Dian mengajak masyarakat dan pemerintah untuk mulai memandang petani dengan perspektif yang lebih manusiawi. Ia berharap adanya kebijakan yang tidak hanya menekan harga gabah tetapi juga memperhatikan kesejahteraan petani.
Dian percaya bahwa hal ini akan mendorong lebih banyak generasi muda untuk terjun di sektor pertanian, mengingat selama ini pekerjaan sebagai petani sering dianggap kurang menjanjikan dari segi finansial.
"Jika tidak ada perubahan dalam sistem ini, regenerasi petani akan terancam. Pemuda tidak akan tertarik untuk menjadi petani jika mereka melihat ketidakadilan dalam perhitungan upah yang diterima," pungkasnya.
Pewarta : Yn/Hd
Editor : Jhon
Copyright @iNet99.id 2024